Jumat, 21 Oktober 2011

Contoh Proposal Metode Penelitian Bahasa Dan sastra

STRATEGI PEMBELAJARAN
UNGGAH UNGGUH BAHASA JAWA BANYUMASAN
PROPOSAL SKRIPSI


Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Metode Penelitian Bahasa Dan Sastra
Dosen Pengampu : Nurhidayati, M.Hum


UNY.jpg


Oleh
Imam Waluyo
NIM. 06205244150


PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAERAH
JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA JAWA
FAKULTAS BAHASA DAN SENI
UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA
2009


DAFTAR ISI

BAB 1     : PENDAHULUAN……………………………………………………..
A.       Latar Belakang Masalah……………………………………………
B.        Identifikasi Masalah………………………………………………..
C.        Pembatasan Masalah……………………………………………….
D.       Perumusan Masalah………………………………………………..
E.        Tujuan Penelitian…………………………………………………..
F.         Manfaat Penelitian…………………………………………………
BAB 11   : KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR…………………………
A.       Kajian Teori………………………………………………………..
B.        Penelitian Yang Relevan…………………………………………..
C.        Kerangka Pikir……………………………………………………..
BAB 111  : METODOLOGI PENELITIAN………………………………………
A.       Pendekatan Penelitian……………………………………………...
B.        Lokasi Penelitian…………………………………………………..
C.        Waktu Penelitian…………………………………………………..
D.       Bentuk Penelitian………………………………………………….
E.        Sumber Data……………………………………………………….
F.         Tekhnik Pengumpulan Data……………………………………….
G.       Tekhnik Cuplikan/Sampling………………………………………
H.       Validitas Data……………………………………………………..
I.          Tekhnik Analisi…………………………………………………...
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………….
LAMPIRAN………………………………………………………………………





BAB 1

A.   Latar Belakang Masalah

Bahasa Jawa sebagai bagian dari bahasa nusantara dapat dikatakan memiliki sejarah panjang pertumbuhannya, area pemakaiannya, jumlah penutur yang besar, variasi dialek-dialeknya, perhatian ilmuwan terhadapnya, dan potensi sastra seninya. Hal itu dapat membuktikan bahwa secara objektif Bahasa Jawa memiliki tingkat “keunggulan” tersendiri. Keunggulan tersebut menjadi berarti ketika Bahasa Jawa sebagai bagian dari bahasa nusantara secara komprehensif mendapatkan perhatian secara proporsional, baik oleh penutur sebagai pendukungnya maupun oleh peminat dari segala aspek dan atau bidang yang ada terhadap Bahasa Jawa tersebut.
Kodrat manusia sebagai makhluk sosial memberikan kebebasan pada manusia untuk melakukan apapun sesuai kehendak dan keinginan mereka,hal ini memaksa manusia untuk selalu bersosial dan terus berkembang mengikuti arah perkembangan, perkembangan zaman dewasa ini sedikit banyak telah merubah berbagai pola pikir dan cara pandang manusia, mulai dari gaya hidup hingga perilaku keseharian, tidak terkecuali dengan tata cara dan adat Jawa, perlahan tapi pasti perubahan pola pikir ini telah merubah wajah tatanan masyarakat Jawa pergeseran itu bisa kita lihat dari bahasa yang sering dipergunakan dalam keseharian.
Setiap perubahan pasti selalu memberikan dampak perbedaan dalam suatu tatanan yang telah ada sebelum nya,perubahan itu dengan sendirinya dapat semakin memperkaya dan sekaligus dapat menyingkirkan tatanan sebelum nya, Jawa sebagai salah satu barometer keaneka ragaman budaya Indonesia dan telah mengakar pada keseharian masyarakat, perubahan jaman dewasa ini semakin mendegradasikan adat masyarakat Jawa dalam sebuah pergeseran budaya, masyarakat Jawa semakin meninggalkan budaya asli mereka.
Disadari atau tidak, bukan tidak mungkin suatu saat masyarakat Jawa akan lupa bahkan tidak memahami budaya nya sendiri, hal nyata terlihat dari adanya pergeseran pola tingkah laku dan tata cara bersosial dalam keseharian, dewasa ini nilai – nilai dari kesusilaan dan kesopanan yang menjadi kebanggaan masyarakat Jawa dirasa semakin terpinggirkan, hampir tidak ada lagi jarak antara seorang anak dengan kakaknya ataupun dengan orang tuanya dalam hal unggah ungguh,tentu hal ini menjadi keprihatinan tersendiri. Seharusnya hal ini telah disadari sebelum nya dan berusaha menumbuh kembangkan nilai – nilai tersebut pada generasi penerus sedini mungkin. Dalam usaha memperkenalkan nilai – nilai unggah ungguh Jawa pada anak maka salah satu cara yang bisa dilakukan adalah memahami kebiasaan mereka, bahasa mereka dan apa saja yang bisa mempengaruhi keterbiasaan mereka.
Unggah ungguh merupakan salah satu ciri khas masyarakat Jawa, di daerah Banjarnegara usaha untuk memajukan hal itu sudah dilakukan pada anak anak,di setiap Sekolah – sekolah telah diajarkan mata pelajaran Bahasa Jawa dimana salah satu fokus pembelajaran diarahkan pada pembentukan unggah ungguh,karena luasnya pembahasan pada unggah ungguh anak, maka saya mencoba mempersempit ke unggah ungguh anak kelas 3 SD. Sebenarnya sudah menjadi tugas kita bersama untuk memperkenalkan nya pada anak – anak, terutama pada anak usia dini yang masih labil dalam menerima sebuah perubahan,anak kelas 3 SD biasanya masih terlalu mudah untuk diarahkan dibanding mereka yang telah mengenal peradaban lain. Diharapkan dengan mengarahkan mereka pada pencerminan nilai – nilai unggah – ungguh Jawa, kelak mereka dapat menerapkan dalam kehidupan sehari – hari karena telah terbiasa. Terbiasa, itulah kata kuncinya.
Namun beberapa dekade belakangan ini penerapan unggah – ungguh dalam bahasa Jawa mulai mengalami kemerosotan dan oleh karena itu, demi pelestarian budaya Jawa, sekolah – sekolah di Jawa, terutama di Jawa tengah dan Jawa Timur mulai berlomba-lomba dalam menerapkan pembelajaran bahasa Jawa yang efektif dan menarik. Dari sini, peneliti ingin melakukan penelitian tentang strategi pembelajaran unggah ungguh bahasa Jawa Banyumasan untuk siswa kelas 3 SD di Banjarnegara. Pada penelitian ini, data yang digunakan adalah data transkrip tuturan atau wawancara langsung dan rekaman yang diperoleh dari hasil perekaman atau penyadapan peneliti. Bagi masyarakat Jawa kesopanan adalah hal yang sangat penting, karena itu tidak jarang seseorang akan dinilai dari tingkah lakunya, tutur kata nya dan sopan santun nya. Dewasa ini perkembangan jaman serasa semakin mendegradasikan bangsa kita dalam ketidak pastian, tanpa terkecuali adalah masyarakat Jawa, dimana etika sangat dijunjung tinggi. Anak muda jaman sekarang seakan sudah tidak bisa membedakan lagi batasan antara mana yang lebih tua, mana yang harus dihormati dan yang harus dihargai. Hal ini tentunya merupakan suatu keperiahatinan kita bersama sebagai orang Jawa, tidak mengherankan kita bila suatu saat nanti orang Jawa lupa akan budaya nya, lupa akan jati diri nya dan lupa akan adat istiadat nya sendiri, maka dari itu nilai – nilai Jawa harusnya sudah mulai ditanam kembangkan sejak usia dini. Namun dalam prakteknya hal itu tidaklah mudah untuk dilaksanakan.
Anak adalah penerus generasi, dimana mereka masih sangat labil dalam menerima perubahan. Di sadari atau tidak arah perubahan itu juga telah merasuk dalam hal berunggah ungguh, hal ini menjadikan sebuah pertanyaan apakah ada yang salah dengan sistem dan strategi pembelajarannya?
Berdasarkan latar belakang diatas maka penelitian ini mengambil judul :

STRATEGI PEMBELAJARAN UNGGAH UNGGUH BAHASA JAWA BANYUMASAN UNTUK SISWA KELAS 3 SD DI BANJARNEGARA

B.   Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka masalah – masalah yang muncul dalam penelitian tersebut dapat di identifikasi sebagai berikut :
§  Perkembangan jaman secara tidak langsung dapat menyebabkan hilang nya tingkat tuturan unggah – ungguh dalam masyarakat.
§   Hilang nya jarak antara orang yang lebih muda dengan orang yang lebih tua dalam hal bertutur kata.
§   Kurang nya peranan guru dalam menciptakan inovasi – inovasi pembelajaran unggah – ungguh bahasa Jawa.
§   Kurang nya pemahaman guru mengenai cara atau strategi pembelajaran yang sesuai dalam mengajarkan unggah – ungguh bahasa Jawa.

C.   Batasan Masalah
Pembatasan masalah dilakukan agar tidak membias dan memudahkan pembahasan serta menghindari pendiskripsian yang meluas. Berdasarkan identifikasi masalah tersebut di atas, maka masalah yang akan diteliti pada penelitian ini dibatasi pada pemilihan cara yang efektif untuk pembelajaran unggah ungguh dalam memperkenalkan dan menerapkannya dalam keseharian. Dari perolehan data di SD Negeri 2 Semampir, Banjarnegara. Jawa Tengah.
D.   Rumusan Masalah
Berdasarkan batasan masalah diatas, maka rumusan masalah utama pada penelitian ini adalah sebagai berikut :
1)      Bagaimanakah bentuk tuturan bahasa Jawa di Desa Semampir, Banjarnegara.
2)      Seperti apa bentuk strategi pembelajaran yang sesuai untuk anak SD kelas 3 dan adakah pengaruhnya terhadap perkembangan unggah ungguh anak didik atau peserta didik.
3)      Adakah pengaruh jenis kelamin pada pembelajaran bahasa Jawa
4)      Bagaimanakah gambaran rumusan pemecahan masalah yang berkaitan dengan unggah ungguh anak kelas 3 SD.

E.    Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini adalah :
1.                 Mengetahui bentuk tutur kata bahasa Jawa masyarakat Desa Semampir, Banjarnegara.
2.   Mengetahui strategi pembelajaran unggah – ungguh bahasa Jawa yang sesuai untuk siswa kelas 3 SD.
3.   Dapat memberikan gambaran rumusan pemecahan masalah yang berkaitan dengan unggah ungguh bahasa Jawa pada anak kelas 3 SD.
4.   Mengetahui hubungan antara gender dengan unggah ungguh bahasa Jawa
5.   Mencari tahu adakah hubungan antara pengaruh tenaga pendidik yang berbasis bahasa Jawa dengan yang tidak berbasis bahasa Jawa dalam pembelajaran unggah ungguh bahasa Jawa.
6.   Apakah ada pengaruh antara cara guru mengajar dengan unggah – ungguh siswa.

F.    Manfaat Penelitian
Penelitian ini, diharapkan dapat membawa manfaat yang secara umum dapat di klasifikasikan menjadi dua, yaitu :
1.  Manfaat Teoritis.
ü  Tercapainya tujuan penelitian di atas, maka akan memberikan kita penjelasan tentang strategi yang sesuai untuk siswa SD kelas 3
ü  Dapat di jadikan referensi untuk melakukan penelitian yang serupa bagi Mahasiswa yang akan melakukan penelitian.

2.  Manfaat Praktis
a.  Bagi peneliti
Memperkaya pemahaman mengenai strategi pembelajaran.
b.  Bagi Sekolah
ü  Pihak sekolah, lingkungan masyarakat dan lingkungan keluarga siswa dapat bekerja sama, memberikan perhatian dan dukungan nya untuk kembali memperhatikan dan memelihara unggah ungguh bahasa Jawa.
ü  Dapat di pergunakan untuk mengetahui bagaimana strategi pembelajaran dan pengaruhnya terhadap unggah ungguh anak didik atau peserta didik.
ü  Dapat memberikan gambaran rumusan pemecahan masalah yang berkaitan dengan unggah ungguh anak kelas 3 SD.
ü  Menjadikan hasil penelitian sebagai dasar pengambilan keputusan dalam menerapkan unggah ungguh untuk anak kelas 3 SD.
ü  Guru bahasa Jawa mengembangkan pembelajaran bahasa Jawa yang terkait tentang penggunaan unggah – ungguh basa Jawa seperti bermain drama, berpidato, ceramah, membaca berita, menulis surat, cerpen dalam bahasa Jawa.
c.  Bagi akademis
Hasil penelitian ini dapat memperkaya koleksi hasil penelitian Mahasiswa terhadap bahasa Jawa.









BAB 11
  KAJIAN TEORI DAN KERANGKA PIKIR

Pada bagian pendahuluan telah dikemukakan bahwa areal pemakaian Bahasa Jawa meliputi sebagian pulau Jawa, lokasi transmigrasi orang Jawa, Suriname, New Caledonia, DKI Jakarta, dan pemukiman yang ada orang Jawa nya. Semua nya itu tidak terlepas dari kisah sejarah kejawaan yang berkembang selama ini, baik atas inisiatif orang-perorang (mencari kerja), kepentingan politik pemerintah (pembuangan, kuli kontrak, duta besar, mutasi kerja), maupun kisah penjajahan masa lalu (Suriname, New Caledonia). Luasnya jangkauan area pemakaian Bahasa Jawa tersebut membuktikan bahwa BJ merupakan bahasa yang pernah berpengaruh dalam sejarah (sosial, ekonomi, politik, budaya) pada masa lalu ketika kekuasaan di Jawa (Majapahit, Demak, Pajang, Mataram, Kartasura, Surakarta, Yogyakarta) masih berdiri tegak, sekalipun dalam saat tertentu pernah dalam posisi tertindas (penjajahan). Keadaan demikian itu, menjadi ironis ketika lama-kelamaan semuanya itu tinggal menjadi masa lalu, karena secara empiris penutur BJ itu sendiri merupakan penutur yang "problematis". Maksudnya identifikasi penutur Bahasa Jawa itu memiliki karakteristis
(1)  Orang Jawa yang masih dapat berbahasa Jawa sesuai aturan,
(2)  Orang Jawa dapat berbahasa Jawa dengan kondisi gagap/gado-gado/tidak tahu persis,
(3)  Orang Jawa yang berbahasa Indonesia atau orang Indonesia dengan "gaya" Jawa,
(4)  Orang Jawa yang bergaya "barat (west)",
(5)  Orang Jawa yang berbahasa "ngoko".
Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang – wenang arbiter yang di pakai oleh anggota – anggota masyarakat untuk saling berhubungan dan berinteraksi, sebagai suatu sistem, bahasa itu mempunyai aturan – aturan yang saling bergantung dan mengandung struktur unsur – unsur untuk di analisis secara terpisah - pisah. Orang berbahasa mengeluarkan bunyi – bunyi berurutan membentuk suatu struktur tertentu ( Blommfield, dalam Sumarsono dan Paina Partana, 2004 : 18). Bahasa berfungsi sebagai penghubung pribadi dengan pribadi, bahasa bersifat personal yang berarti berguna untuk menyatakan pikiran, gagasan dan kemauan individu (Mansoer Pateda, 1991 : 18). Kelompok yang berinteraksi dengan perantara bahasa di sebut masyarakat bahasa.
Bahasa Jawa sebagai bagian dari bahasa nusantara sekurang-kurangnya memiliki tujuh identifikasi bila dibandingkan dengan Bahasa Daerah yang lain, yaitu
a.          Jumlah penutur,
b.         Areal pemakaian,
c.          Sejarah pemakaian (yang tergolong kuna terbukti dalam piagam/prasasti yang telah ditemukan),
d.         Nilai sastra dan seni,
e.          Variasi pemakaian dalam dialek-dialek, dan
f.          Perhatian ilmuwan terhadap Bahasa Jawa
Bahasa Jawa memiliki banyak kekayaan variasi pemakaian nya, baik menyangkut waktu (dialek temporal), lokasi (dialek geografis), dan penuturnya (dialek sosial). Sekurang-kurangnya yang telah diidentifikasi oleh Poerbatjaraka (1957) dan Kridalaksana (1984) dialek temporal meliputi BJ Kuna, BJ Tengahan, dan BJ Baru (mulai Surakarta hingga sekarang). Dialek geografis menurut Nothofer (1972: 75) dikelompokkan menjadi dialek Surakarta, Banyumasan, Pesisir dan Jawa Timuran. Multamia (1998: 3) telah mengidentifikasi hasil penelitian dialek BJ yang dapat dikelompokkan dialek geografis yang telah diteliti dalam bentuk Tesis, di samping tesis Wakit (1996) tentang geografi dialek BJ Madiun (masuk dalam identifikasi Multamia, 1998) masih ada penelitian lain yang belum tercatat dalam identifikasi Multamia tersebut, yaitu geografi dialek BJ Surakarta secara sinkronis (Wakit, dkk., 1997), geografi dialek BJ Surakarta secara diakronis (Wakit, dkk., 1998), geografi dialek BJ Ngawi secara sinkronis (Supiyarno dan Wakit, 1999/2000), geografi dialek BJ Ngawi secara diakronis (Supiyarno dan Wakit, 2001), Geografi Dialek BJ Sragen (Mulyati dan Wakit, 2002), Geografi dialek BJ Klaten (Suwanto dan Wakit, 2003), Geografi dialek BJ Banjarnegara (Lastuti, 2000), Geografi dialek Banyumasan di Banjarnegara (Wakit, 2003).
Dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Ngapak Ngapak adalah kelompok bahasa bahasa Jawa yang dipergunakan di wilayah barat Jawa Tengah, Indonesia. Beberapa kosakata dan dialeknya juga dipergunakan di Banten utara serta daerah Cirebon-Indramayu. Logat bahasanya agak berbeda dibanding dialek bahasa Jawa lainnya. Hal ini disebabkan bahasa Banyumasan masih berhubungan erat dengan bahasa Jawa Kuna (Kawi). Bahasa Banyumasan terkenal dengan cara bicaranya yang khas. Dialek ini disebut Banyumasan karena dipakai oleh masyarakat yang tinggal di wilayah Banyumasan.
Seorang ahli bahasa Belanda, E.M. Uhlenbeck, mengelompokan dialek-dialek yang dipergunakan di wilayah barat dari Jawa Tengah sebagai kelompok (rumpun) bahasa Jawa bagian barat (Banyumasan, Tegalan, Cirebonan dan Banten Utara). Kelompok lainnya adalah bahasa Jawa bagian Tengah (Surakarta, Yogyakarta, Semarang dll) dan kelompok bahasa Jawa bagian Timur. Kelompok bahasa Jawa bagian barat (harap dibedakan dengan Jawa Barat/Bahasa Sunda) inilah yang sering disebut bahasa Banyumasan (ngapak-ngapak). Secara geografis, wilayah Banten utara dan Cirebon - Indramayu memang berada di luar wilayah berbudaya Banyumasan tetapi menurut budayawan Cirebon TD Sudjana, logat bahasanya memang terdengar sangat mirip dengan bahasa Banyumasan. Hal ini menarik untuk dikaji secara historis. Dibandingkan dengan bahasa Jawa dialek Yogyakarta dan Surakarta, dialek Banyumasan banyak sekali bedanya. Perbedaan yang utama yakni akhiran 'a' tetap diucapkan 'a' bukan 'o'. Jadi jika di Solo orang makan 'sego' (nasi), di wilayah Banyumasan orang makan 'sega'. Selain itu, kata-kata yang berakhiran huruf mati dibaca penuh, misalnya kata enak oleh dialek lain bunyinya ena, sedangkan dalam dialek Banyumasan dibaca enak dengan suara huruf 'k' yang jelas, itulah sebabnya bahasa Banyumasan dikenal dengan bahasa Ngapak
Alat komunikasi masyarakat Banjarnegara sebagian besar masih menggunakan bahasa Jawa tuturan nya dan masih mengenal ada nya tingkat tutur. Tingkat tutur yaitu variasi bahasa yang perbedaan antara satu dengan lain nya ditentukan oleh perbedaan sopan santun yang ada pada diri penutur atau pembicara terhadap lawan bicara ( Soepomo Poedjosoedarmo, 197 : 3 ). Secara garis besar tingkat tutur bahasa Jawa dikenal ada nya tingkat tutur ngoko dan tingkat tutur karma (Soepomo, 1979 : 9; Suwito, 1985 : 6 ; Sudaryanto, 1987 : 2 ), sedangkan secara khusus tingkat tutur dalam bahasa Jawa disebut undha – usuk atau juga Unggah – ungguh. Unggah – ungguh berarti sopan santun. Sedangkan unggah – ungguh basa, berarti tataran ngoko karma, ini berkembang mungkin karena keingunggah - ungguh basa, berarti tataran ngoko karma.




BAB III
Metode Penelitian

Metode penelitian merupakan cara mencari kebenaran dan asas - asas gejala alam, masyarakat atau kemanusiaan, berdasarkan disiplin ilmu yang bersangkutan (Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan, 1988 : 581). Metode ini sebagai alat, prosedur, dan tekhnik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian. Beberapa metode pengumpulan data penelitian kualitatif dalam penelitian ini, yaitu:
1. Wawancara
Wawancara merupakan alat re-cheking atau pembuktian terhadap informasi atau keterangan yang diperoleh sebelumnya. Tehnik wawancara yang digunakan dalam penelitian kualitatif adalah wawancara mendalam. Wawancara mendalam (in–depth interview) adalah proses memperoleh keterangan untuk tujuan penelitian dengan cara tanya jawab sambil bertatap muka antara pewawancara dengan informan atau orang yang diwawancarai, dengan atau tanpa menggunakan pedoman (guide) wawancara, di mana pewawancara dan informan terlibat dalam kehidupan interaksi sosial yang relatif lama.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan seorang peneliti saat mewawancarai responden adalah intonasi suara, kecepatan berbicara, sensitifitas pertanyaan, kontak mata, dan kepekaan nonverbal. Dalam mencari informasi, peneliti melakukan dua jenis wawancara, yaitu autoanamnesa (wawancara yang dilakukan dengan subjek atau responden) dan aloanamnesa (wawancara dengan keluarga responden). Beberapa tips saat melakukan wawancara adalah mulai dengan pertanyaan yang mudah, mulai dengan informasi fakta, hindari pertanyaan multiple, jangan menanyakan pertanyaan pribadi sebelum building raport, ulang kembali jawaban untuk klarifikasi, berikan kesan positif, dan kontrol emosi negatif.
2. Observasi
Beberapa informasi yang diperoleh dari hasil observasi adalah ruang (tempat), pelaku, kegiatan, objek, perbuatan, kejadian atau peristiwa, waktu, dan perasaan. Alasan peneliti melakukan observasi adalah untuk menyajikan gambaran realistik perilaku atau kejadian, untuk menjawab pertanyaan, untuk membantu mengerti perilaku manusia, dan untuk evaluasi yaitu melakukan pengukuran terhadap aspek tertentu melakukan umpan balik terhadap pengukuran tersebut. Bungin (2007: 115) mengemukakan beberapa bentuk observasi yang dapat digunakan dalam penelitian kualitatif, yaitu observasi partisipasi, observasi tidak terstruktur, dan observasi kelompok tidak terstruktur. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam observasi adalah topografi, jumlah dan durasi, intensitas atau kekuatan respon, stimulus kontrol (kondisi dimana perilaku muncul), dan kualitas perilaku.
3. Dokumen
Sejumlah besar fakta dan data tersimpan dalam bahan yang berbentuk dokumentasi. Sebagian besar data yang tersedia adalah berbentuk surat-surat, catatan harian, cenderamata, laporan, artefak, foto, dan sebagainya. Sifat utama data ini tak terbatas pada ruang dan waktu sehingga memberi peluang kepada peneliti untuk mengetahui hal-hal yang pernah terjadi di waktu silam. Secara detail bahan dokumenter terbagi beberapa macam, yaitu otobiografi, surat-surat pribadi, buku atau catatan harian, memorial, klipping, dokumen pemerintah atau swasta, data di server dan flashdisk, data tersimpan di website, dan lain-lain.

Analisis Data
Analisis data, adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah di baca dan di implementasikan. Sesuai dengan tujuan penelitian maka tekhnik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis model interaktif sebagaimana di ajukan oleh Miles dan Huberman, yang terdiri dari tiga hal utama, yaitu : pengumpulan data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan atau verifikasi. Alasan peneliti memilih model ini karena model ini dipandang sangat sesuai untuk diterapkan ke dalam penelitian kualitatif.
Analisis data kualintatif, yaitu analisa dengan suatu ungkapan atau pernyataan berdasarkan hasil temuan selama proses pengumpulan data dilakukan., upaya yang dilakukan secara berulang, berlanjut dan terus menerus, dimana dalam pengambilan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Setelah pengumpulan data lalau di lakukan reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Apabila dalam penarikan kesimpulan data yang di dapatkan kurang atau tidaksesuai maka peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data, hal tersebut dilakukan secara terus menerus sampai data valid.
1. Pengumpulan Data
Data yang diperoleh dari hasil observasi, wawancara dan dokumentasi di catat dalam catatan lapangan yang terdiri dari dua aspek, yaitu : deskripsi dan refleksi. Catatan deskripsi adalah data alami yang berisi tentang apa yang dilihat, di dengar, dirasakan, disaksikan dan di alami sendiri oleh peneliti tanpa adanya pendapat dan penafsiran dari peneliti tentang fenomena yang di jumpai. Sedangkan catatan refleksi yaitu catatan yang memuat kesan, komentar dan tafsiran peneliti tentang temuan yang dijumpai dan merupakan bahan rencana pengumpulan data. Untuk mendapatkan catatan ini, maka peneliti melakukan wawancara dengan beberapa informan.
2. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses seleksi, pemfokusan, penyederhanaan dan abstraksi. Cara nya dengan melakukan seleksi, membuat ringkasan atau uraian singkat, menggolongkan ke pola – pola dengan membuat transkip penelitian untuk mempertegas, memperpendek, membuat focus, membuang bagian tidak penting dan mengatur agar dapat menarik kesimpulan.
3. Penyajian Data
Penyajian data adalah, sekumpulan informasi tersusun sehingga memberikan kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan. Agar sajian data tidak menyimpang dari pokok permasalahan maka sajian data dapat diwujudkan dalam bentuk table atau bagan sebagai wadah panduan informasi tentang apa yang terjadi, data di sajikan sesuai dengan apa yang diteliti.
4. Penarikan Kesimpulan
Penarikan kesimpulan adalah usaha untuk mencari atau memahami makna, keteraturan pola – pola penjelasan, alur sebab akibat atau proposisi. Kesimpulan ditarik segera diverifikasi dengan cara melihat dan mempertanyakan kembali sambil melihat catatan lapangan agar memperoleh pemahaman yang lebih tepat. Selain itu juga dapat dilakukan dengan mendiskusikan nya, agar data yang diperoleh dan penafsiran terhadap data tersebut memiliki validitas sehingga kesimpulan yang ditarik menjadi kokoh.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar